Emotional quotient (EQ) (bukan berarti menahan marah..)

Sabtu, 21 Mei 2011

Saya hampir tertawa saat mengingat kembali masa-masa SMA. Banyak kejadian (yang baru saya sadari saat ini) yang menurut saya konyol yang pernah saya lakukan saat itu. Tak usahlah disebutkan satu per satu, nanti yang ada saya malu sendiri. Hehehe. Tapi, ada di masa SMA itu juga saya mulai dituntut (karena faktor usia juga) untuk berpikir kritis. Adalah beberpa pertanyaan pada saat itu yang akhirnya telah saya temukan jawabannya pada saat sekarang ini. Dan itu termasuk pertanyaan batin saya tentang makna Emotional Quotient atau biasa disingkat EQ.

Menurut si empunya ilmu, Daniel Goleman, faktor kesuksesan seseorang saat ini bukan lagi ditentukan oleh Intelegent Quotient (IQ). Karena banyak kasus yang menyatakan kalim itu sudah punah. Misalnya saja banyak sekali di bumi ini orang pintar yang logikanya pasti sukses ternyata hidup dibawah garis kemiskinan. Dengan pendapatan yang pas-pasan. Justru ada orang yang biasa-biasa saja menjadi seorang pengusaha, miliuner. Hebatnya, orang biasa tersebut berhasil mempekerjakan si pintar.

Entah karena perubahan struktur sosial itu atau dengan alasan apapun, semua orang berangsur-angsur mulai memetakan pikirannya tentang kesuksesan bukan lagi ditentukan oleh IQ. Maka muncul lah Emotional Quotient (EQ), yaitu kecerdasan emosional yang saat ini mulai logis untuk dimasukkan sebagai landasan fundamental kesuksesan seseorang. Well, entah benar atau tidak, saya tidak mau dipusingkan dengan hal itu. Hehehe. Bagi saya, sukses adalah ketika hidup kita bermanfaat untuk kehidupan orang lain dengan ukuran hari ini harus lebih baik dari hari kemarin.

Maka, pelatihan EQ pun di adakan di sekolah. Saat itu saya lupa berapa nilai saya, tapi yang pasti, nilai saya tertinggi di kelas. Dan ironisnya saat itu saya tidak bangga. Hal itu dikarenakan nilai IQ saya hanya 121. Dan jelas bukan orang jenius. Hehehe. Dan kurangnya informasi tentang pentingnya EQ juga, membuat saya jadi merasa kalah oleh musuh bebuyutan saya saat itu.

Pulang ke rumah, dua amplop itu saya buka-buka lagi. Dan saat itu bertanyalah saya dalam hati. Memang apa sih pentingnya tes EQ. toh tidak membanggakan. Hingga entah kenapa (saya lupa asal-usulnya) saya beranggapan kalo EQ itu menahan amarah. Well, sampai saat itu saya menelan pemahaman picik itu.

Waktu terus berganti dan usia pun semakin bertambah. Tapi entah kenapa, arti yang ringkas tentang EQ itu kok masih mengganjal di hati saya. Entah kenapa juga saya merasa arti ringkas tadi rasanya salah, menyimpang, dan aneh aja. Dalam pikiran saya, masa gara-gara nahan marah aja orang bisa jadi sukses. Dan saat itu pun saya tau kalo saya harus mencari arti sebenarnya.

Hingga bertemulah saya dengan seorang teman yang mengambil studi Psikologi di kampus negeri terkemuka. Dalam obrolan panjang lebar karena lama tidak bertemu, sampailah saya ingat tentang kegundahan hati saya itu. Pokoknya saya harus dapet jawaban sesungguhnya! Begitu tekad saya dalam hati. Lalau saya lemparlah pertanyaan seputar EQ kepadanya. Tukar pikiran itu membuka cakrawala berpikir saya. Ternyata yang selama ini saya pahami tentang arti EQ itu keliru!

EQ bukan berarti tidak marah atau gak boleh marah! EQ adalah kecerdasan diri kita atas kecepatan beradaptasi di lingkungan baru! OH MY GOD!!! Jadi ini toh artinya. Jadi EQ itu kecerdasan beradaptasi di lingkungan baru!

Well, mulai sekarang saya boleh berbangga karena mempunyai nilai tes EQ tertinggi di kelas. Hehehe.

simple action...

1. Ok, sekarang kamu udah tau kan arti EQ? so, selami dirimu dulu. Apakah kamu memiliki kecerdasan EQ yang oke? (ditandai dengan cepatnya kamu beradaptasi di lingkungan baru)

2. Asahlah kemampuan EQ kamu. Karena itu salah satu faktor kesuksesan hidup kamu dimasa yang akan datang.

0 komentar:

Poskan Komentar